Memuat…
DINAS KESEHATAN
Detail Inovasi OPD

PELANGI NUSANTARA (Pelayanan Gizi dan Penyuluhan Kesehatan Anak serta Remaja)

5 Foto
Klik gambar untuk tampilan penuh
Rancang Bangun & Perubahan
Kota Semarang merupakan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah sebesar 373,70 km2. Pada tahun 2019 angka kemiskinan di Kota Semarang sebesar 3,98%. Kemiskinan erat kaitannya dengan status kesehatan di masyarakat. Tingginya angka kemiskinan menandakan banyak keluarga yang tidak mampu mencukupi kebutuhan gizinya dari makanan sehingga menyebabkan kekurangan gizi. Kekurangan gizi pada saat hamil dapat menyebabkan Kurang Energi Kronis (KEK). Ibu hamil yang KEK berisiko melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah dan stunting. Stunting yang tidak diatasi dapat menyebabkan penurunan kognitif secara permanen sehingga berdampak terhadap menurunnya tingkat produktivitas di masa depan. Hal ini memicu terjadinya peningkatan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran di suatu daerah. Oleh karena itu optimalisasi pada 1000 HPK dibutuhkan untuk memutus rantai permasalahan tersebut. Pada tahun 2019 terdapat 149 (0,16%) balita gizi buruk, 2759 (2,98%) balita stunting, 834 (3,51%) bayi dengan berat lahir rendah, serta 3011 (11,9%) ibu hamil KEK di Kota Semarang. Hal ini menunjukan bahwa masih terdapat permasalahan kesehatan pada 1000 HPK di Kota Semarang.
 
Untuk mengentaskan permasalahan pada 1000 HPK, maka perlu adanya sebuah inovasi yang berfokus pada kelompok sasaran yang terdampak pada permasalahan tersebut meliputi remaja, ibu hamil, bayi dan balita. Berdasarkan dari latar belakang tersebut inovasi Pelangi Nusantara digagas, diinisiasi, dan diterapkan. Inovasi ini bertujuan untuk menangani masalah gizi secara komprehensif melalui pendekatan Continuum of Care 1000 HPK dengan sasaran dimulai dari remaja, ibu hamil, hingga bayi dan balita di Kota Semarang dengan konsep Bergerak Bersama yaitu melibatkan berbagai OPD, Institusi Pendidikan, serta Organisasi Profesi yang ada di Kota Semarang. Melalui program Pelangi Nusantara, ditargetkan di tahun 2022 terjadi penurunan prevalensi stunting pada menjadi 2%, penurunan prevalensi gizi buruk menjadi 0,1%, prevalensi bayi dengan berat badan lahir rendah menjadi 2,75%, serta prevalensi ibu hamil KEK menjadi 7,8%. Sehingga diharapkan angka kemiskinan di Kota Semarang juga dapat mengalami penurunan.

Pelangi Nusantara dibentuk pada tahun 2020 untuk menanggulangi permasalahan stunting dan gizi buruk melalui pendekatan Continuum of Care 1000 HPK. Inovasi ini dibentuk akibat masih banyaknya permasalahan kesehatan dan gizi pada 1000 HPK seperti ibu hamil KEK, BBLR, balita stunting dan gizi buruk. Kegiatan pada program Pelangi Nusantara terdiri dari upaya promotif-preventif berupa wisata edukasi gizi dan pemanfaatan kebun gizi, upaya kuratif berupa pemeriksaan balita gizi buruk secara komprehensif di rumah gizi serta penanganan balita stunting melalui daycare Rumah Pelita. Upaya penunjang berupa mobil stunting untuk memudahkan penyuluhan di masyarakat, pemanfaatan aplikasi seperti e-PPGBM untuk pemantauan status gizi rutin bulanan, serta penggunaan aplikasi sayang-anak untuk pemantauan harian kondisi dan perkembangan balita yang dilakukan penanganan.
 
Keunggulan dari inovasi ini adalah adanya rumah gizi sebagai homebase penanganan balita gizi buruk dan stunting secara komprehensif mulai dari pemeriksaan oleh dokter spesialis anak, konsultasi psikologi, pemeriksaan fisioterapi, hingga konsultasi gizi dengan nutrisionist dari PERSAGI, serta pemberian PMT dan paket F-100 rutin. Selain itu terdapat Daycare untuk mengoptimalkan pola asuh pada balita stunting, sehingga dapat tercipta peningkatan status gizi dan stimulasi tumbuh kembang anak stunting. Dalam pelaksanaannya juga melibatkan puskesmas untuk mengantar dan menjemput sasaran sehingga memberikan kemudahan akses bagi sasaran dari berbagai wilayah.

Pelangi Nusantara terdiri dari upaya promotif-preventif, kuratif, serta penunjang. Upaya promotif-preventif berupa wisata edukasi dengan sasaran remaja mulai dari SD hingga SMA. Kegiatan dilakukan dengan mengundang sasaran ke rumah gizi maupun kunjungan ke sekolah-sekolah untuk dilakukan edukasi dengan metode yang menyenangkan. Sasaran dikenalkan gizi seimbang melalui praktik, games, maupun studi kasus sehingga bisa menerapkannya di sekolah. Kemudian dibentuk agen rempah yaitu duta kesehatan untuk mengedukasi siswa lain di sekolah. Sasaran juga dikenalkan kebun gizi sebagai upaya penyediaan pangan sehat.
 
Upaya kuratif berupa pemeriksaan balita gizi buruk dan stunting secara komprehensif, serta optimalisasi tumbuh kembang di daycare. Kegiatan diawali dengan pelacakan sasaran oleh Dinas Kesehatan, petugas gizi puskesmas, serta kader posyandu. Setelah dilacak, dilakukan penentuan sasaran melalui rapat koordinasi lintas program lintas sektor, dilanjutkan pemeriksaan laboratorium awal. Kemudian dilakukan intervensi selama 6 bulan sebanyak 15 kali dengan kegiatan terlampir di data dukung. Kemudian di akhir intervensi dilakukan monitoring evaluasi berupa rapat hasil lintas program lintas sektor serta pemeriksaan laboratorium akhir. Sedangkan intervensi melalui daycare dilakukan secara harian dengan kegiatan terlampir di data dukung, melibatkan nutrisionist dan bidan puskesmas untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Upaya Penunjang berupa mobil stunting untuk penyuluhan di masyarakat dan aplikasi sayang-anak untuk pemantauan harian balita yang ditangani.
Tujuan Inovasi
Inovasi ini bertujuan untuk menangani masalah gizi secara komprehensif melalui pendekatan Continuum of Care 1000 HPK dengan sasaran dimulai dari remaja, ibu hamil, hingga bayi dan balita di Kota Semarang dengan konsep Bergerak Bersama yaitu melibatkan berbagai OPD, Institusi Pendidikan, serta Organisasi Profesi yang ada di Kota Semarang.
Manfaat Inovasi
A. Bagi Sasaran:
- Mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat

B. Bagi instansi:
- Mendukung tercapainya program percepatan penurunan stunting
Hasil Inovasi
Pelangi Nusantara sebagai inovasi percepatan penurunan stunting yang berfokus pada pelaksanaan Continuum of Care 1000 HPK di Kota Semarang dapat memberikan hasil yang signifikan dalam indikator perbaikan gizi masyarakat dengan keberhasilan penanganan gizi buruk dan stunting 77,27?n penurunan prevalensi stunting dari sebesar 2,98% di tahun 2019 menjadi 1,66% di tahun 2022. Selain itu terjadi penurunan prevalensi gizi buruk dari 0,16% di tahun 2019 menjadi 0,03% pada tahun 2022. Selain balita, ibu hamil dan remaja juga menjadi fokus sasaran program Pelangi Nusantara. Terjadi penurunan prevalensi ibu hamil KEK dari sebesar 11,9% di tahun 2019 menjadi 7,4% di tahun 2022. Hal ini didukung juga dengan menurunnya prevalensi bayi dengan berat badan lahir rendah dari sebesar 3,51% di tahun 2019 menjadi 2,24% di tahun 2022. Jumlah agen rempah yang terbentuk dari program Pelangi Nusantara juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2021 agen rempah yang terbentuk sejumlah 264, sedangkan di tahun 2022 mengalami peningkatan menjadi 600 agen rempah. Selain itu jumlah sekolah yang telah mengikuti wisata edukasi gizi juga mengalami peningkatan dari 62 sekolah menjadi 105 sekolah di tahun 2022. Prevalensi remaja putri yang mengalami anemia juga mengalami penurunan dari 3,76% di tahun 2019 menjadi 1,95% di tahun 2022. Sehingga dapat disimpulkan melalui Program Pelangi Nusantara ini, telah terjadi perbaikan gizi pada indikator-indikator yang telah ditetapkan dengan hasil capaian telah melampaui target.
Tahapan
Penerapan
Uji Coba
2020-01-06
Implementasi
2020-01-06