Layanan Warga Semarang Sehat Setiap Waktu (LAWANG SEWU) dikembangkan sebagai implementasi dari dari Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), dengan berfokus pada upaya promosi dan pencegahan penyakit. LAWANG SEWU merupakan salah satu upaya untuk mendukung SDGs no.3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya pencegahan dan pengendalian penyakit terutama PTM pada kelompok usia produktif di Kota Semarang dan memberikan stimulus kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan.
Dasar Hukum :
Permasalahan : Jumlah penderita Penyakit Tidak Menular terutama kelompok usia produktif (15-64 tahun) di Kota Semarang meningkat sejak tahun 2017 hingga 2019 dengan jumlah terbanyak 336.846 penderita. Hal ini berdampak pada penurunan angka produktivitas dan peningkatan kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) di Kota Semarang, puncak trend angka kematian akibat Penyakit Tidak Menular tertinggi terjadi pada tahun 2018 sejumlah 1625 kasus kematian.
Isu Strategis :
Angka kejadian Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, stroke, dan obesitas di Kota Semarang mengalami peningkatan signifikan, khususnya pada kelompok usia produktif (15–64 tahun). Kondisi ini berdampak langsung terhadap penurunan produktivitas masyarakat dan peningkatan angka kematian, sebagaimana tercatat pada tahun 2018 dengan jumlah kasus kematian tertinggi akibat PTM sebesar 1.625 kasus.
2. Rendahnya Kesadaran dan Kepatuhan Masyarakat terhadap Pemeriksaan Kesehatan Rutin
Salah satu tantangan utama adalah rendahnya partisipasi masyarakat dalam melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Hal ini disebabkan oleh persepsi masyarakat terkait biaya yang tinggi, keterbatasan waktu, serta akses yang sulit ke fasilitas kesehatan. Akibatnya, penyakit sering kali terdeteksi pada stadium lanjut yang membutuhkan penanganan lebih kompleks dan biaya lebih tinggi.
3. Keterbatasan Jangkauan Layanan Promotif dan Preventif
Sebelum adanya inovasi LAWANG SEWU, sebagian besar pelayanan kesehatan promotif dan preventif hanya tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas dan Rumah Sakit. Hal ini menyebabkan keterbatasan cakupan layanan bagi masyarakat yang berada di wilayah padat penduduk dan jauh dari fasilitas kesehatan.
4. Masih Rendahnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Masyarakat
Perilaku masyarakat yang masih cenderung tidak sehat, seperti pola konsumsi makanan tinggi kadar gula, garam, dan lemak serta rendahnya aktivitas fisik, menjadi salah satu faktor risiko utama terjadinya PTM. Kurangnya edukasi dan pemahaman mengenai pentingnya pola hidup sehat memperburuk situasi ini.
5. Ketimpangan Akses Layanan Deteksi Dini di Tingkat Masyarakat Dasar (RW)
Terdapat kebutuhan mendesak untuk memperluas akses layanan deteksi dini penyakit hingga ke tingkat masyarakat dasar, seperti RW dan lingkungan tempat tinggal. Sebelum LAWANG SEWU, layanan skrining dini umumnya hanya tersedia secara terbatas di fasilitas kesehatan formal, sehingga kelompok masyarakat rentan tidak terlayani secara optimal.
6. Belum Optimalnya Koordinasi Lintas Sektor dan Pemberdayaan Masyarakat
Pelaksanaan program kesehatan masyarakat masih menghadapi tantangan dalam hal kolaborasi dan sinergi lintas sektor. Diperlukan penguatan koordinasi antara perangkat daerah, tokoh masyarakat, kader kesehatan, serta organisasi profesi agar pelaksanaan inovasi dapat berjalan lebih efektif, partisipatif, dan berkelanjutan.
7. Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Layanan Kesehatan Masih Terbatas
Meskipun telah tersedia sistem informasi, pemanfaatan teknologi digital dalam pencatatan, pemantauan, dan pelaporan kegiatan promotif dan preventif belum diimplementasikan secara optimal di seluruh wilayah.
8. Upaya Peningkatan Angka Harapan Hidup Masih Perlu Ditingkatkan
Walaupun angka harapan hidup di Kota Semarang telah menunjukkan peningkatan (dari 77,23 tahun pada 2017 menjadi 77,70 tahun pada 2023), pencapaian ini masih memerlukan penguatan program promotif-preventif secara sistematis dan berkelanjutan untuk mencapai target nasional dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Metode Pembaharuan:
|
No. |
Komponen |
Sebelum Inovasi LAWANG SEWU |
Sesudah Inovasi LAWANG SEWU |
|
1. |
Pendekatan Program |
Kuratif (pengobatan saat sakit) |
Promotif dan preventif berbasis deteksi dini dan edukasi masyarakat |
|
2. |
Target Layanan |
Pasien yang datang ke fasilitas kesehatan |
Seluruh masyarakat, termasuk yang sehat dan tanpa keluhan |
|
3. |
Lokasi Pelayanan |
Terpusat di Puskesmas dan Rumah Sakit |
Diadakan di berbagai lokasi seperti Kelurahan/Kecamatan, Balai Warga, Pondok Pesantren, Pusat keramaian dan berbagai event Kota Semarang. |
|
4. |
Biaya Layanan |
Umumnya berbayar sesuai jenis pemeriksaan |
Gratis, khususnya melalui skema Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk warga |
|
5. |
Fokus Intervensi |
Penanganan penyakit yang sudah terjadi |
Pencegahan melalui pemeriksaan tensi, gula darah, gizi, dan lingkungan |
|
6. |
Pelibatan Lintas Sektor |
Terbatas pada tenaga kesehatan di faskes |
Lintas sektor: RT/RW, kader, PKK, karang taruna, Dispora, tokoh masyarakat, pemerintah, akademisi, komunitas, media, bisnis |
|
7. |
Skema Partisipasi Masyarakat |
Pasif, hanya datang saat sakit |
Aktif, berbasis komunitas, partisipatif, dan berbasis momentum sosial |
|
8. |
Frekuensi Kegiatan |
Tidak rutin, tergantung kunjungan pasien |
Rutin minimal 2 kali per bulan dan bisa dijadwalkan secara tematik |
|
9. |
Media Edukasi dan Promosi |
Umumnya satu arah, dalam bentuk poster atau brosur |
Interaktif: konseling gizi, promosi PHBS, senam peregangan, penyuluhan langsung |
|
10. |
Pencatatan dan Evaluasi |
Manual, tidak terintegrasi antar faskes |
Digitalisasi: BIDIK PROKES, TUNGGAL DARA, laporan daring ke Dinas Kesehatan |
|
11. |
Pemanfaatan Teknologi Informasi |
Minimal, berbasis kertas |
Maksimal: aplikasi Satu Sehat Mobile, dashboard, dan integrasi sistem kesehatan |
|
12. |
Pendanaan Program |
Mengandalkan APBD dan BOK |
Multisumber: Sumber dana APBD, BOK, dan partisipasi swadaya Masyarakat |
Tahapan Inovasi :
|
Tahapan |
Penjelasan |
|
1. Inisiasi dan Gagasan Awal (Awal 2019) |
Berdasarkan data peningkatan angka Penyakit Tidak Menular (PTM) di Kota Semarang, terutama pada usia produktif, serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, maka Dinas Kesehatan Kota Semarang merumuskan ide inovasi yang berbasis pada pendekatan promotif-preventif berbasis komunitas. |
|
2. Legalitas dan Penetapan Inovasi (September 2019) |
Untuk memperkuat landasan inovasi, diterbitkan Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Nomor 440/24804 Tahun 2019 yang secara resmi melahirkan dan melegalkan program LAWANG SEWU sebagai inovasi layanan kesehatan masyarakat. Inovasi ini juga ditetapkan sebagai bagian dari strategi lokal implementasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). |
|
3. Uji Coba Lapangan / Pilot Project (September – Desember 2019) |
Kegiatan LAWANG SEWU mulai dilakukan secara terbatas di beberapa kelurahan dan RW, meliputi:– Pemeriksaan tensi dan gula darah secara gratis– Senam peregangan dan edukasi fisik ringan– Konseling gizi dan PHBS– Edukasi langsung di sekolah, pasar, dan balai warga. Kegiatan difokuskan untuk mengukur respon masyarakat dan efektivitas pendekatan "jemput bola". |
|
4. Implementasi Awal dan Penguatan Kolaborasi (Akhir 2019) |
Setelah hasil uji coba dinilai berhasil dan mendapat respon positif, program diperluas cakupannya secara bertahap dan mulai dijalankan lebih rutin. Pada tahap ini dilakukan koordinasi lintas sektor dan pelibatan pemangku kepentingan lokal seperti camat, lurah, RW/RT, PKK, serta organisasi profesi kesehatan. |
|
5. Pengembangan Model dan Penyempurnaan (2020–2021) |
Berdasarkan evaluasi lapangan, dilakukan penyempurnaan konsep dan penguatan metodologi pelaksanaan. Mulai dirancang penggunaan alat bantu edukasi, SOP pelaksanaan, serta rencana replikasi di seluruh Puskesmas. |
|
6. Pelembagaan dan Replikasi Skala Kota (2022–2024) |
Diterbitkan SK baru No. B/2476/800/II/2022 dan pembaruan SK 800.22/32101 Tahun 2024. Seluruh 39 Puskesmas Kota Semarang diwajibkan mereplikasi LAWANG SEWU, menjadikannya sebagai indikator kinerja promosi kesehatan. |
|
7. Pengembangan Inovasi - MENTTARI SEHAT NUSANTARA (2023) |
Dilakukan perubahan pengembahan inovasi berupa "MENTTARI SEHAT" (Medical Checkup untuk Deteksi Dini Penyakit Menuju Semarang Semakin Sehat dan Sejahtera) bertujuan untuk memberikan gambaran masalah kesehatan yang diperoleh dari screening kesehatan yang dilakukan saat pelaksanaan Inovasi LAWANG SEWU dan meningkatkan upaya preventif dan promotif.
|
|
7. Pengembangan Inovasi – Cek Kesehatan Gratis (2025) |
Pada tahun 2025, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) diluncurkan sebagai bentuk perluasan inovasi. Warga mendapatkan akses gratis ke layanan pemeriksaan kesehatan dasar. Skema ini meningkatkan partisipasi masyarakat dalam deteksi dini secara sukarela dan menyenangkan. |
|
8. Evaluasi, Digitalisasi, dan Penyempurnaan Berkelanjutan (Berjalan) |
Program terus dikembangkan melalui: – Digitalisasi sistem (Satu Sehat, BIDIK PROKES, TUNGGAL DARA)– Monitoring melalui dashboard terintegrasi– Evaluasi rutin berbasis survei kepuasan, lokakarya mini, dan kinerja Puskesmas– Replikasi oleh daerah lain dan peningkatan literasi kesehatan masyarakat. |
Keunggulan dan Kebaharuan : Bentuk kebaruan dari inovasi ini terkait dengan bergerak bersama (lintas program dan lintas sektor). Adanya LAWANG SEWU mendukung upaya deteksi dini Penyakit Tidak Menular (PTM) dan penurunan angka kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) di Kota Semarang yang sebelumnya selalu meningkat sejak tahun 2017 hingga 2019 dengan jumlah terbanyak 336.846 penderita menjadi menurun hingga tahun 2023. Inovasi LAWANG SEWU memiliki keunikan yaitu dilaksanakan dengan kolaborasi lintas program dan sektor sehingga mendapat dukungan seluruh lintas sektor dan diadakan di berbagai lokasi seperti Kelurahan/Kecamatan, Balai Warga, Pondok Pesantren, Pusat keramaian dan berbagai event Kota Semarang. Inovasi ini bergerak bersama untuk meningkatkan cakupan lokasi pemeriksaan kesehatan (cek tensi, gula darah, konsultasi gizi) dan memperluas jangkauan seluruh lapisan masyarakat untuk mendapatkan akses kesehatan tanpa dipungut biaya apapun.
KEUNGGULAN DAN KEBAHARUAN :
1. Pada Tahun 2023, Inovasi LAWANG SEWU melakukan perubahan pengembahan inovasi berupa "MENTTARI SEHAT" (Medical Checkup untuk Deteksi Dini Penyakit Menuju Semarang Semakin Sehat dan Sejahtera)
2. Hingga Tahun 2023, Kegiatan LAWANG SEWU telah direplikasi oleh 39 Puskesmas di Kota Semarang dan menjadi salah satu indikator penilaian kinerja Kampanye Germas dalam Upaya Promosi Kesehatan Puskesmas.
3. Inovasi LAWANG SEWU telah direplikasi oleh Kabupaten / Kota lainnya di Indonesia sebagai upaya implementasi GERMAS dan menurunkan angka kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM)
4. Inovasi LAWANG SEWU memiliki keunikan yaitu dilaksanakan dengan kolaborasi lintas program dan sektor sehingga mendapat dukungan seluruh lintas sektor dan diadakan di berbagai lokasi seperti Kelurahan/Kecamatan, Balai Warga, Pondok Pesantren, Pusat keramaian dan berbagai event Kota Semarang.
5. LAWANG SEWU menggerakkan pemberdayaan masyarakat bersama kelompok-kelompok dalam masyarakat seperti TP-PKK, FKK, LPMK,Karang taruna dan Kader Kesehatan di Kota Semarang, serta bergerak bersama dengan lintas aktor (pemerintah, akademisi, komunitas, media, bisnis),
6. Pelaksanaan kegiatan LAWANG SEWU tidak hanya dibiayai oleh APBD Kota Semarang dan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan), namun juga didanai oleh dana swadaya masyarakat.
7. LAWANG SEWU menjadi inovasi efektif yang tepat sasaran dalam menurunkan prevalensi Penyakit Tidak Menular dan kematian akibat Penyakit Tidak Menular.
Tujuan LAWANG SEWU adalah untuk mendukung SDGs no.3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya pencegahan dan pengendalian penyakit terutama PTM pada kelompok usia produktif di Kota Semarang dan memberikan stimulus kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan. Serta bertujuan untuk penggerakan kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) untuk mempercepat penurunan angka kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) melalui upaya promotif dan preventif terutama deteksi dini.
Pelaksanaan penggerakan kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) untuk upaya penurunan angka kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) berhasil melalui inovasi LAWANG SEWU. Kondisi ini membawa manfaat yang sangat luas di bidang kesehatan masyarakat yang mendekatkan akses pemeriksaan kesehatan sehingga dapat mendeteksi penyakit yang diderita lebih cepat dan mendapat tindak lanjut. Dengan demikian angka harapan hidup di kota semarang menjadi meningkat dari 77,23 tahun 2018 menjadi 77,70 tahun 2023. Dengan inovasi LAWANG SEWU, pihak lain yang mereplikasi dapat melakukan LAWANG SEWU untuk mempercepat penurunan angka kasus Penyakit Tidak Menular (PTM). Untuk lebih menjaga dan meningkatkan inovasi LAWANG SEWU, inovasi ini telah dievaluasi atau dinilai oleh berbagai pihak, baik secara internal maupun secara eksternal. Evaluasi ditekankan pada sejauh mana kemampuan inovasi LAWANG SEWU dalam memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Semarang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis tanpa pungutan liar (Pungli) sehingga memberikan tingkat kepuasan maksimal kepada masyarakat. Metode evaluasi dilakukan oleh Pemerintah Pusat untuk melihat progres pelaksanaan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), kemudian Pemerintah Provinsi melihat peningkatan angka Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sedangkan dari internal Dinas Kesehatan melakukan evaluasi melalui form Survey Kepuasan Pelanggan yang diisi oleh pengunjung LAWANG SEWU, ini bertujuan untuk mendapatkan umpan balik atas kinerja dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Hasil evaluasi memberikan rekomendasi perbaikan dan penyempurnaan secara berkelanjutan, yang telah disikapi langsung oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang untuk meningkatkan kinerja penyelenggaraan program LAWANG SEWU. Masyarakat mendapatkan manfaat dan kemudahan yang sangat besar dalam melakukan pemeriksaan kesehatan / deteksi dini melalui inovasi LAWANG SEWU. Dalam hal ini masyarakat sangat terbantu mendapatkan pelayanan kesehatan di berbagai lokasi seperti Kelurahan/Kecamatan, Balai Warga, Pondok Pesantren, Pusat keramaian dan berbagai event Kota Semarang. Adanya Penguatan kerjasama dan kemitraan dengan melibatkan lintas sektor terkait, yaitu: Pemerintah Kota, Kecamatan, Kelurahan, Kader Kesehatan, Dispora, Puskesmas, Fasilitas Kesehatan lain dan Tokoh Masyarakat dalam penyelenggaraan program LAWANG SEWU.
Setelah dilaksanakan inovasi LAWANG SEWU telah memberikan dampak positif bagi masyarakat Kota Semarang antara lain ditunjukkan dengan kondisi sebelum (before) and sesudah (after) berbasis indikator kinerja sebagai berikut:
1. Sebelumnya kegiatan promotif dan preventif Masih berfokus di fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas dan Rumah Sakit, sedangkan saat ini Promosi kesehatan sudah berfokus pada kebutuhan masyarakat dan dilaksanakan di berbagai titik lokasi masyarakat
2. Sebelunya Fasilitas pelayanan kesehatan deteksi dini Hanya bisa didapatkan di fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas dan Rumah Sakit, sedangkan saat ini Deteksi dini bisa dilakukan secara rutin setiap hari Jumat atau Sabtu setiap bulan di Kantor Kecamatan, Kelurahan, Balai Warga, Sekolah dan Tempat Tempat Umum.
3. Biaya yang dikeluarkan masyarakat Masyarakat mengeluarkan biaya sesuai dengan layanan yang mau diperoleh, sedangkan saat ini Deteksi dini bisa dilakukan secara gratis tanpa dipungut biaya apapun selama pelaksanaan kegiatan.
4. Angka Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Pada tahun 2017 angka PHBS di Kota Semarang adalah 92.34%, sedangkan pada tahun 2022 dengan adanya LAWANG SEWU angka PHBS di Kota Semarang meningkat menjadi 96,37%
5. Trend angka kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) Pada tahun 2018 puncak tertinggi trend angka kematian akibat PTM sejumlah 1625, sedangkan pada Tahun 2022 menurun dengan prosentasi sejumlah 43,20% menjadi 923.
6. Angka Harapan Hidup Pada tahun 2017 harapan hidup di Kota Semarang sejumlah 77,23% Meningkat pada Tahun 2023 menjadi 77,70%