Memuat…
DINAS KESEHATAN
Detail Inovasi OPD

TUNGGAL DARA (Bersatu Tanggulangi Demam Berdarah)

2 Foto
Klik gambar untuk tampilan penuh
Rancang Bangun & Perubahan
Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial ekonomi. Kerugian sosial yang terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan dalam keluarga, kematian anggota keluarga dan berkurang usia harapan hidup masyarakat. Dampak ekonomi langsung adalah biaya pengobatan yang mahal, sedangkan dampak tidak langsung adalah kehilangan waktu kerja dan biaya lain yang dikeluarkan selain pengobatan seperti transportasi dan akomodasi selama perawatan sakit. Kota Semarang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah 373,7km berpenduduk 1.688.133 jiwa. Peningkatan kasus DBD terbesar pada tahun 2008 dan 2010 yaitu sebanyak 5.249 kasus pada 2008 dan 5.556 pada 2010 (dengan kematian 47). Upaya Pemerintah Kota Semarang dalam pengendalian demam berdarah adalah menerbitkan Peraturan Daerah  Nomor 5 Tahun 2010 tentang Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue dengan diperkuat adanya Peraturan Walikota Nomor 69 tentang Perubahan Atas Peraturan Wali Kota Semarang Nomor 27B Tahun 2012 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue. Selain itu, penanganan masalah penyakit menular berpotensi wabah belum maksimal dilaksanakan. Hal ini disebabkan belum ada dukungan pelaporan digital dan komitmen lintas sektoral. Tingginya angka kesakitan dan kematian akibat DBD di Kota Semarang disebabkan oleh berbagai permasalahan terutama masalah kesehatan dan lingkungan. Penyebab permasalahan sebagai berikut : Rendahnya angka bebas jentik (ABJ) di lingkungan Rendahnya partisipasi masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk dan perilaku 3M Plus Rendahnya kecepatan pelaporan kasus infeksi dengue oleh fasilitas pelayanan kesehatan Rendahnya respon atau intervensi pemangku wilayah dalam pengendalian kasus infeksi dengue Tingginya curah hujan Tidak ada program penanggulangan infeksi dengue di lingkungan sekolah Rendahnya gerakan satu rumah satu jumantik di masyarakat Setiap tahun, terjadi peningkatan angka kesakitan akibat DBD serta kelurahan endemis di Kota Semarang. Kecepatan pelaporan yang masih manual serta rendahnya partisipasi lintas sector dalam penanggulangan DBD juga merupakan salah satu penyebab tingginya penularan kasus. Tunggal Dara hadir sebagai solusi terintegrasi yang menguatkan surveilans dan peningkatan peran lintas sector. TUNGGAL DARA lahir tahun 2015 dengan nama HIEWS berganti nama tahun 2019. Tahun 2021 hadir TUNGGAL DARA ANDROID yang lebih mudah digunakan oleh Kader untuk melakukan pelaporan hasil Pemantauan Jentik Nyamuk dan Pengendalian Tikus Pemukiman. Pengembangan tahun 2023 menggabungkan gerakan pemberdayaan SEMAR GREGET (Semarang Gencar Berantas Uget-Uget) dengan SIGARBENCA24 (Sinergi Pelaporan dan Gerak Bersama dalam Penyelidikan Epidemiologi Infeksi Dengue secara Tepat dan Cepat ≤24 jam) serta SICENTIK (Siswa Cari Jentik) dan MANTU MANIS (Pemantauan Mingguan Wilayah Rentan dan Prediksi Kasus). Digitalisasi laporan terkait upaya penanggulangan DBD menjadi lebih terintegrasi. Berikut ini adalah digitalisasi laporan yang terintegrasi dalam Tunggal Dara : Inpus Kasus Infeksi Dengue oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan Sesuai dengan regulasi Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Pengendalian Penyakit DBD mengatur bahwa Rumah Sakit, Klini Rawat Inap, Puskesmas Rawat Inap melaporkan kasus infeksi dengue paling lambat 1x24 jam setelah tegak diagnosa. Dalam menu ini fasyankes harus menginputkan identitas pasien serta alamat domisili (alamat tinggal pasien). Laporan Penyelidikan Epidemiologi oleh Epidemiolog Puskesmas Laporan penyelidikan epidemiologi yang dilakukan oleh puskesmas menjadi penilaian kinerja puskesmas dalam upaya penanggulangan infeksi dengue yang dimonitoring dan evaluasi secara berkelanjutan setiap satu minggu sekali. Upaya PE dilakukan dengan cepat, tepat dan lengkap dimaksudkan untuk mencegah penularan kasus infeksi dengue yang lebih luas. Terhitung setelah fasilitas pelayanan kesehatan menginputkan laporan kasus infeksi dengue ke dalam system Tunggal Dara, Penyelidikan Epidemiologi harus dilaksanakan selambat-lambatnya <24>realtime. Laporan Monitoring dan Evaluasi Siswa Cari Jentik (SICENTIK) Siswa Cari Jentik (SICENTIK) merupakan program inisiasi dari TP PKK Kota Semarang dimana memiliki latar belakang karena kasus infeksi dengue lebih banyak menyerang pada anak usia sekolah. Program ini bertujuan meningkatkan kebiasaan siswa untuk lebih mencintai kebersihan lingkungan terutama upaya pencegahan DBD. Siswa melaksanakan pemantauan jentik di rumah masing-masing setiap hari Minggu dan dilaporkan kepada guru kelas setiap hari Senin. Selain itu siswa diajarkan untuk rutin melakukan pemantauan jentik di lingkungan sekolah. Puskesmas serta Dinas Kesehatan bertugas untuk melaksanakan monitoring dan evaluasi keberjalanan SiCentik, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Agama Kota Semarang. Laporan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (GSRSJ) Laporan Pengendalian Tikus di Pemukiman (PTP) Akses data prediksi kasus infeksi dengue dengan BMKG Laporan Pemantauan Jentik Nyamuk (PJN) Laporan PJN terdiri dari laporan PJN yang dilakukan murni oleh masyarakat dan laporan PJN yang dilaksanakan oleh petugas puskesmas. Laporan PJN bisa diinput menggunakan tunggal dara android dan website. Serta dilakukan umpan balik setiap hari Minggu kepada Camat dan Lurah (bersamaan dengan jumlah kasus) serta Angka Bebas Jentik dari hasil Pemantauan Jentik Nyamuk di masyarakat. Umpan Balik Camat dan Lurah Umpan balik disampaikan kepada pemangku wilayah mencakup : Jumlah kasus dan kematian terupdate Angka Bebas Jentik per Wilayah Persentase partisipasi RT, RW dan Kelurahan yang melaksanakan PJN Kelurahan yang tidak melakukan pendampingan PJN setiap minggu Peta Kerentanan Infeksi Dengue (yang sedang terjadi saat ini) Peta Potensial Dampak (Prediksi kasus penularan, peningkatan kasus per RW) TUNGGAL DARA berperan penting dalam peningkatan partisipasi masyarakat dalam upaya penanggulangan DBD. Sebelum adanya TUNGGAL DARA, pelaporan kasus masih menggunakan manual dimulai dari formulir KDRS (Kewaspadaan Dini RS) DBD harus menunggu selama 30 hari untuk dilaporkan dari fasyankes kepada Dinas Kesehatan Kota Semarang sehingga penanganan kasus penyakit menular cepat seperti demam berdarah masih belum bisa ditanggulangi dengan cepat pula. Hal tersebut terbukti dengan ledakan kasus yang sangat tinggi sebelum tahun 2015. Selain penguatan surveilans pelaporan, TUNGGAL DARA mengakomodir pelaporan upaya penanggulangan di masyarakat sampai tingkat RW, RT bahkan kader kesehatan. Sebelum adanya sistem TUNGGAL DARA, kader melakukan pelaporan manual hasil pemantauan jentik nyamuk kepada puskesmas kemudian membutuhkan waktu 1 bulan untuk melakukan evaluasi dari hasil upaya pengendalian oleh masyakat. Dengan mudahnya pelaporan serta pemberian feedback yang cepat oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang setelah adanya TUNGGAL DARA secara otomatis meningkatkan partisipasi dari masyarakat untuk ikut serta dalam pengendalian DBD.  Pembaharuan TUNGGAL DARA terus dilakukan, berikut evaluasi dan tahap pemaharuan : 1. Tahun 2021 evaluasi tunggal dara terkait pesan (sms blast) kepada camat dirasa sudah kurang relevan sehingga feedback kasus, ABJ dan keterlibatan wilayah dalam PJN dilaksanakan melalui Whatsapp Grup yang didalamnya terdiri dari Walikota Semarang, Sekretaris Daerah Kota Semarang, Kepala OPD dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Camat dari 16 Kelurahan, serta 177 Lurah. 2. Tahun 2022 adanya evaluasi sms sehingga kader yang sulit mengirimkan SMS dan masih berbayar di tahun 2022 lebih mudah melakukan pelaporan hasil PJN yaitu dengan aplikasi TUNGGAL DARA ANDROID yang bisa diakses seluruh kader di 177 kelurahan 3. Tahun 2022 akhir dilakukan evaluasi dampak yang dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (FKKMK) untuk menjadi perbaikan di tahun 2023 4. Tahun 2023 usulan dana untuk pengembangan TUNGGAL DARA mengalami refocusing, sehingga kegiatan dititik beratkan pada memanfaatkan aplikasi yang saat ini berjalan dan membuat master plan tunggal dara untuk tahun 2024.
Tujuan Inovasi
Inovasi TUNGGAL DARA bertujuan menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya penanggulangan DBD di Kota Semarang. Inovasi ini telah berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) nasional sesuai pilar 2 dan 3 yaitu menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat dan menjaga kualitas lingkungan hidup serta pembangunan yang inklusif. Tujuan 3 : Kehidupan Sehat dan Sejahtera dengan : Target 3.3. Pada tahun 2030, mengakhiri epidemic AIDS, tuberculosis, malaria dan penyakit tropis yang terabaikan dan memerangi hepatitis, penyakit bersumber air serta penyakit menular lainnya. Target 3.d. Memperkuat kapasitas semua Negara, khususnya Negara berkembang tentang peringatan dini, pengurangan risiko dan manajemen risiko kesehatan nasional dan global. Tujuan 6 : Air Bersih dan Sanitasi Layak Target 6.b. Mendukung dan memperkuat partisipasi masyarakat local dalam meningkatkan pengelolaan air dan sanitasi.
Manfaat Inovasi
Inovasi TUNGGAL DARA merupakan bentuk system integrasi mendukung sinergitas seluruh sector untuk melakukan upaya penanggulangan penyakit menular (infeksi dengue) melalui upaya preventif memberdayakan masyarakat berkelanjutan. Berikut adalah manfaat dari inovasi TUNGGAL DARA : Menurunkan angka kesakitan infeksi dengue (incidence rate) Meningkatkan kecepatan pelaporan kasus infeksi dengue kurang dari 24 jam Meningkatkan kecepatan penyelidikan epidemiologi (PE) infeksi dengue <24> Meningkatkan peran serta/partisipasi RT, RW dan kelurahan dalam pelaksanaan PJN dan PSN Meningkatkan peran serta institusi pendidikan dan tempat peribadahan dalam melaksanakan program pengendalian infeksi dengue (bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kantor Kementerian Agama Kota Semarang) Meningkatkan pilot project Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (GSRSJ) Membuat system prediksi kasus melalui peran dari lintas sektor dan data iklim BMKG TUNGGAL DARA memberikan akses mudah dalam pelaporan oleh masyarakat, serta cepat dan tepat dalam intervensi kasus dengan bergerak bersama lintas sektor serta masyarakat Kota Semarang dengan dukungan system yang terintegrasi.  
Hasil Inovasi
Sejak dilaksanakan dan dikembangkan inovasi TUNGGAL DARA telah berdampak positif bagi masyarakat ditunjukan dengan kondisi sebelum, saat diterapkan dan setelah pengembangan sebagai berikut : 1. Sistem pelaporan dari Fasyankes (Klinik, RS, Puskesmas Rawat Inap) terkait kasus infeksi dengue yang sebelum tahun 2015 masih manual menggunakan formulir cetak menjadi digital melalui website, serta pengembangan tahun 2022 menggunakan tunggal dara android yang mempermudah petugas epidemiologi melakukan penitikan koordinat kasus menggunakan smartphone 2. Mempercepat pelaporan kasus infeksi dengue (sebelum tahun 2015 membutuhkan waktu 14 hari untuk sampai di Dinas Kesehatan dan Puskesmas) di tahun 2019 meningkat menjadi 2,6 hari dan di tahun 2023 menjadi kurang dari 1 hari 3. Meningkatnya fasyankes yang melakukan pelaporan kasus infeksi kurang dari 24 jam dari 18% menjadi 67% 4. Meningkatnya pelaksanaan penanggulangan kasus dilapangan oleh petugas epidemiolog dari 0% (sebelum 2015) menjadi 99% (ditahun 2023) 5. Meningkatnya partisipasi masyarakat untuk melaksanakan Pemantauan Jentik Nyamuk (PJN) dari 0% (tidak ada partisipasi sama sekali tahun 2015) menjadi 100% (tahun 2023) 6. Dengan adanya dukungan sistem dibarengi dengan peningkatan inovasi lain dalam penanggulangan DBD seperti SICENTIK dan GSRSJ (Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik). 7. Penurunan kasus tahun 2015 (1737 kasus) menjadi 441 kasus di tahun 2021 8. engan banyaknya data yang masuk ke Tunggal Dara secara realtime, mempermudah melakukan analisis risiko sehingga tahun 2023 mulai terbentuk sistem prediksi kasus yan gmengolah data iklim, kasus, kematian serta variabel kapasitas adaptasi untuk membuat prediksi kasus 3 bulan sebelumnya 9. Feedback kepada camat dan lurah di tahun 2015 belum dilakukan, namun di tahun 2021 dilakukan menggunakan SMS Blaster (SMS kepada camat dan lurah), namun saat ini langsung menggunakan WaG yang disaksikan oleh Walikota Semarang. ​​​​​​ Pengukuran dampak evaluasi inovasi TUNGGAL DARA telah dilakukan secara internal dan eksternal. Secara internal melalui : Monitoring dan Umpan Balik peta kerentanan dan peta potensial dampak (prediksi kenaikan kasus) Monitoring dan Umpan balik kasus kepada kepala puskesmas Pertemuan epidemiolog puskesmas terkait evaluasi tunggal dara website dan android Adapun metode evaluasi eksternal telah dilaksanakan melalui : Umpan Balik Camat dan Lurah kasus infeksi dengue dan keterlibatan wilayah dalam upaya penanggulangan infeksi dengue mingguan Penguatan PJN dan PTP di 1500 RW se Kota Semarang Umpan Balik Kecepatan Pelaporan Kasus Infeksi Dengue kepada RS, Klinik dan Puskesmas Rawat Inap. Evaluasi system informasi TUNGGAL DARA (Android dan Website) oleh Ilmu Kesehatan Masyarakat FK KMK Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Februari 2023 Hambatan belum terurai ke tingkat kota melalui forum TEPRA yang dipimpin langsung oleh Ibu Walikota.
Tahapan
Penerapan
Uji Coba
2022-03-01
Implementasi
2023-01-02