Memuat…
DINAS KESEHATAN
Detail Inovasi OPD

GALAKSI BIMA SAKTI (WARGA DAN AMBULANCE HEBAT BERKOLABORASI DALAM AKSI MENUJU SAFETY COMMUNITY)

Klik gambar untuk tampilan penuh
Rancang Bangun & Perubahan

Kegawatdaruratan medis di Kota Semarang terjadi setiap harinya dan kecepatan respon time penanganan pasien menentukan keselamatan atau kecacatan pasien yang bisa berdampak pada produktivitas serta berimplikasi hilangnya pendapatan dan kemiskinan. Namun, terdapat jeda waktu kedatangan tim PSC 119 Ambulance Hebat (AH) sebagai unit gawat darurat (gadar) cukup lama antara waktu kejadian dan sampainya tim AH di lokasi, yakni rata-rata 20 menit. Karena itulah, GALAKSI BIMA SAKTI hadir sebagai solusi. Targetnya adalah pasien gadar secepatnya tertangani kurang dari 10 menit setidaknya oleh relawan. Aspek kebaruannya adalah integrasi antara layanan AH dan pemberdayaan relawan terutama alumni pelatihan BHD dalam menangani pasien gadar. Implementasinya, alumni pelatihan BHD mendapat notifikasi kejadian gadar kemudian bisa memberikan pertolongan sebelum Tim AH tiba di lokasi.

Regulasi terkait diantaranya Peraturan Walikota Semarang No. 54 Th 2016 tentang Pelayanan Ambulance Hebat Kota Semarang dan Surat Keputusan Kepala Dinas Kota Semarang No. 440/2991 Th 2020 tentang GALAKSI BIMA SAKTI yang selaras dengan Permenkes No 19 Th 2016 tentang Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu.

Adanya Inovasi GALAKSI BIMA SAKTI berhasil mempercepat respon time penanganan pasien gadar yang dibantu relawan yakni rata-rata 10 menit. Hasil ini bisa mengatasi permasalahan yang AH hadapi.

Tujuan Inovasi
<meta charset="utf-8" />

Kegawatdaruratan medis misalnya kecelakaan lalu lintas (KLL), serangan jantung, serangan stroke dan sebagainya bisa terjadi kapan saja serta di mana saja. Berdasarkan data PSC 119 Ambulance Hebat (AH) Kota Semarang, sepanjang tahun 2017 terdapat 653 kasus gawat darurat (gadar) dan KLL. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 398% menjadi 2600 kasus pada tahun 2018 dan 3.430 kasus atau 132% pada tahun 2019. 

Penanganan kasus gadar memerlukan respon time yang cepat untuk mencegah pasien cacat atau bahkan meninggal. AH sebagai unit gawat darurat di Kota Semarang, menghadapi masalah berkaitan dengan respon time tersebut, yaitu adanya jeda waktu antara waktu kejadian dan sampainya Tim AH di lokasi kejadian rata-rata 20 menit. Jeda waktu kedatangan tim medis berpotensi lebih lama apabila terjadi hal-hal sebagai berikut: 1) terjadi kemacetan parah yang menyebabkan ambulan tidak bisa melewati jalan tersebut; 2) sulitnya akses menuju lokasi; dan 3) tidak tersedianya ambulan yang standby dikarenakan sedang menangani pasien lain. Permasalahan ini berdampak pada seluruh warga Kota Semarang, terutama kelompok rentan diantaranya ibu hamil, bayi, lansia, dan korban KLL. Pasien gadar yang tidak tertangani segera yang bisa menjadi cacat atau meninggal dunia. Hal tersebut, bisa menurunkan produktivitas yang berimplikasi meningkatnya masyarakat miskin di Kota Semarang. 

Berdasarkan permasalahan di atas, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang melalui unit AH mengembangkan inovasi GALAKSI BIMA SAKTI pada tahun 2020. Kemudian, alumni pelatihan tersebut diarahkan menjadi relawan yang berfungsi: 1) membantu masyarakat menghubungi Tim AH; 2) melakukan pertolongan pertama sebelum AH sampai di lokasi. Inovasi ini bertujuan meningkatkan pemerataan relawan di seluruh penjuru Kota Semarang dan mempercepat penangan pasien gadar kurang dari 15 menit dari waktu kejadian sehingga akan tercipta masyarakat aman sejahtera (safe community).
Manfaat Inovasi
<meta charset="utf-8" />

Manfaat inovasi Galaksi Bima Sakti bisa dilihat dari tabel di bawah ini:

INDIKATOR

SEBELUM

SESUDAH

Jumlah masyarakat terlatih BHD

Tidak ada / sedikit

Ribuan masyarakat terlatih BHD

Pemberdayaan masyarakat terlatih BHD

Tidak ada

Masyarakat terlatih BHD terdata, terpetakan, dan diberdayakan untuk siap siaga menghadapi kejadian gadar

Penanganan pasien sebelum Tim AH tiba di lokasi

Tidak ada

Ada relawan yang siap membantu

Respon Time penanganan

Pasien tidak tertangani sampai Tim AH tiba di lokasi (rata-rata  20 menit)

Pasien ditangani oleh relawan secepat mungkin (rata-rata 10 menit)

Akses pelayanan AH

Sebagian masyarakat tidak tahu akses/ call center AH

Bisa dibantu oleh relawan terdekat untuk menghubungi AH

Penambahan Fitur Aplikasi AH

hanya tersedia panic button untuk memanggil bantuan AH

ditambahkan fitur pendataan relawan, notifikasi kejadian gawat darurat kepada relawan terdekat yang terintegrasi dengan layanan TIM AH

Konsultasi penanganan Gadar 

Tidak ada

Tersedia layanan konsultasi dokter via telepon 1500-132  atau WA 08112900132

Hasil Inovasi
<meta charset="utf-8" />

Sejak ditetapkannya inovasi GALAKSI BIMA SAKTI pada tahun 2020, terjadi peningkatan secara signifikan jumlah masyarakat yang terlatih BHD. Pada tahun 2021, jumlah peserta meningkat hingga 320%, yang kemudian melonjak drastis hingga 1.156% pada tahun 2022. Total masyarakat yang telah terlatih BHD sejak 2017-2022 mencapai 4.350 orang. Berikut adalah grafik pertumbuhan jumlah masyarakat terlatih BHD:

Peningkatan peserta tahun 2022 didukung oleh keikutsertaan 32 puskesmas di Kota Semarang dalam memberikan pelatihan BHD ke masyarakat di wilayah masing-masing. Penyelenggaraan pelatihan oleh puskesmas dibekali prosedur standar yang ditetapkan Dinkes Kota Semarang yang kemudian menjadi bahan evaluasi dan penilaian. 

Selain peningkatan jumlah peserta, relawan yang memberikan pertolongan pertama pada kasus KLL yang ditangani AH juga meningkat secara signifikan. Relawan ini adalah alumni maupun non-alumni pelatihan BHD yang secara sukarela memberikan pertolongan pertama pada pasien KLL mulai dari (1) mengamankan pasien, (2) memberi edukasi kepada keluarga atau masyarakat di sekitar lokasi kejadian, (3) membantu menghubungi AH, (4) stabilisasi pasien sampai Tim AH tiba di lokasi. Berikut adalah grafik jumlah relawan penolong pertama kasus KLL AH:

Berdasarkan data tersebut, terjadi peningkatan jumlah relawan yang cukup signifikan pada bulan Januari 2023, yakni mencapai 179?n meningkat kembali sebesar 21% pada bulan Februari 2023. Pelatihan BHD yang dilaksanakan bisa memacu pertumbuhan lebih banyak kelompok-kelompok relawan kesehatan seperti BANKOM, SRITI, KREKI, MIK SIGAP, dan lainnya. Peningkatan keterlibatan relawan dalam penanganan gadar dapat dianggap sebagai sinyal positif dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat di Kota Semarang. Dengan adanya peningkatan jumlah relawan yang dilengkapi dengan keterampilan BHD, masyarakat dapat lebih cepat memberikan pertolongan pada korban dalam situasi darurat, sehingga dapat menghindarkan korban dari resiko cidera tambahan.

Selain itu, inovasi GALAKSI BIMA SAKTI juga mempercepat respon time penanganan pasien gawat darurat yang akan berimbas pada tingkat kematian dan kecacatan pasien gadar. Percepatan respon time yang dimaksud adalah penanganan pasien secara cepat di antara waktu kejadian dan kedatangan Tim AH di lokasi kejadian. Tim AH membutuhkan waktu untuk tiba di lokasi rata-rata 20 menit, sedangkan relawan yang berada di lokasi sekitar bisa menjangkau pasien lebih cepat yakni rata-rata  10 menit. 

Dampak lainnya adalah terbentuknya Kelurahan Tanggap Darurat Medis (KTDM) yang bertujuan untuk persiapan dalam menghadapi situasi gawat darurat medis dengan cara memberdayakan masyarakat sekitar yang telah terlatih BHD. Pembentukan KTDM setidaknya terdapat lima orang yang terlatih BHD yang kemudian pihak kelurahan bisa mengkoordinir dan memberdayakannya melalui organisasi formal maupun nonformal. Saat ini, terdapat 59 kelurahan yang memenuhi kriteria menjadi KTDM. Berikut adalah peta persebaran alumni pelatihan BHD per kelurahan:

Tahapan
Penerapan
Uji Coba
2020-02-12
Implementasi
2020-03-01