A. Dasar Hukum Undang-undang RI Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Indonesia Tahun 2004 Nomor 125) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063); Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038); Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 60 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5680); Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 100); Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 6 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2021-2016 (Tambahan Lembaran Daerah Kota Semarang Nomor 148); Peraturan Walikota Semarang Nomor 27 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik di Lingkungan Pemerintah Kota Semarang (Berita Daerah Kota Semarang Tahun 2021 Nomor 27); Peraturan Wali Kota Semarang Nomor 93 Tahun 2021 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Sistem Kerja Dinas Kesehatan Kota Semarang (Berita Daerah Kota Semarang Tahun 2021 Nomor 93); Peraturan Walikota Semarang Nomor 76 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Tahun 2020-2024 (Berita Daerah Kota Semarang Tahun 2019 nomor 77); B. Permasalahan Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Salah satu masalah kekurangan gizi yang masih cukup tinggi di Indonesia terutama masalah pendek (stunting). Stunting merupakan suatu keadaan gagal tumbuh pada anak di bawah lima tahun yang ditandai dengan tinggi badan anak lebih pendek dari anak dengan usia yang sama. Keadaan tersebut diakibatkan oleh kondisi tidak optimalnya asupan gizi yang diterima ibu hamil pada 1000 hari pertama kehidupan sehingga anak mengalami kekurangan gizi kronis dan atau penyakit infeksi kronis maupun berulang. Menurut World Health Organization (WHO), stunting dapat diketahui berdasarkan kondisi dimana Z-Score tinggi badan menurut umur (TB/U) pertumbuhan mencapai kurang dari -2 Standar Deviasi (SD). Stunting merupakan masalah serius yang sulit untuk ditangani karena dipengaruhi oleh berbagai penyebab, diantaranya adalah keadaan sosial ekonomi orang tua anak, kecukupan asupan gizi ibu saat hamil, riwayat penyakit bayi, kurangnya asupan gizi sesuai kebutuhan, serta minimnya pengetahuan orang tua tentang pola asuh yang harus dilakukan selama 1000 hari pertama kehidupan. Mengacu pada hasil penelitian kesehatan nasional yang diselenggarakan pada tahun 2018 tercatat kejadian stunting di Indonesia mencapai angka 29,9% (Riskesdas, 2018). Kondisi prevalensi stunting ini mengalami penurunan berdasarkan pada data hasil penelitian ataupun riset kesehatan serupa yang diselenggarakan pada tahun 2013, tercatat kejadian stunting mencapai angka 37,2 %, setelah sebelumnya terdapat peningkatan prevalensi stunting pada tahun 2010 yang tercatat kejadian stunting mencapai angka 35,6 ?n angka stunting pada tahun 2007 tercatat dengan angka 36,8 % (Riskesdas, 2013). Meskipun dalam beberapa tahun terakhir menunjukan tren penurunan kejadian stunting, angka prevalensi tersebut belum mencapai tujuan yang ditetapkan oleh WHO yaitu ambang batas prevalensi stunting yakni sebesar 20%. Jika suatu negara memiliki angka prevalensi sebesar 20-30%, maka negara tersebut termasuk dalam kategori kondisi prevalensi yang tinggi. Sedangkan jika suatu negara memiliki angka prevalensi melebihi 30% maka negara tersebut dalam kategori kondisi prevalensi stunting yang sangat tinggi. Menurut World Health Organization, stunting dapat menyebabkan perkembangan kognitif atau kecerdasan, motorik, dan verbal berkembang secara tidak optimal, peningkatan risiko obesitas, dan penyakit degeneratif lainnya, peningkatan biaya kesehatan, serta peningkatan kejadian kesakitan dan kematian. Anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang tidak maksimal akibat stunting pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan, dan memperlebar ketimpangan di suatu negara. Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa stunting dapat menghambat pertumbuhan fisik, meningkatkan kerentanan anak terhadap penyakit, menimbulkan hambatan perkembangan kognitif yang menurunkan kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan. Stunting juga akan meningkatkan risiko terjadinya penyakit degeneratif di usia dewasa. Kerugian ekonomi akibat stunting pada angkatan kerja di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 10.5?ri produk domestik bruto (PDB), atau setara dengan 286 triliun rupiah. C. Isu Strategis Berdasarkan data dalam Profil Kesehatan Kota Semarang, prevalensi stunting di Kota Semarang pada tahun 2018 sebanyak 2,5% (2478 dari 107.978 balita), mengalami peningkatan menjadi 2,57% (2759 dari 107.071 balita) pada tahun 2019 dan menjadi 3,13% (3142 dari 100.446 balita) pada tahun 2020. Setelah dilakukan berbagai upaya intervensi, prevalensi balita stunting di Kota Semarang mengalami penurunan menjadi 3,1% (1367 dari 44.058 balita) pada tahun 2021 yang kemudian turun drastis menjadi 1,55% (1465 dari 94.288) di tahun 2022 dan 1,47% pada Juli 2023. Sampai saat ini masih dilakukan upaya penurunan angka stunting sebagai salah satu kunci dalam pembangunan kesehatan, sebagai upaya penekanan angka stunting pemerintah membuat program Zero Stunting dengan tujuan tidak adanya peningkatan stunting sehingga prosentase peningkatan stunting dari bulan ke bulan adalah nol persen. Kota Semarang berkomitmen untuk terus bergerak bersama dan berkolaborasi menciptakan berbagai inovasi dalam menangani kasus stunting di Kota Semarang yang dituangkan dalam berbagai program kerja dengan turut melibatkan berbagai sektor. D. Metode Pembaharuan Kondisi sebelum adanya inovasi ini intervensi penanganan stunting di Rumah Pelita menggunakan pencatatan dan pengukuran antropometri dilakukan secara manual. Kondisi setelah adanya inovasi ini pencatatan dan pengukuran antropometri dilakukan secara elektronik melalui SIM Sayang Anak dan mengunakan IoT Antropometri. Dengan adanya SIM Sayang Anak data yang diinputkan lebih tertata, mudah untuk diakses dan dianalisis, serta telah terintegrasi dengan website stunting Kota Semarang. Tersedia visualisasi berupa dashboard interaktif hasil analisis diagnostic reading stunting yang dapat memberikan gambaran faktor risiko penyebab stunting di Kota Semarang. E. Keunggulan/Kebaharuan Pencatatan pengukuran antropometri menggunakan IoT Antropometri telah terintegrasi dengan SIM Sayang Anak sehingga lebih akurat, cepat, efektif untuk mengetahui status gizi anak. Memiliki visualisasi grafik status gizi berdasarkan pengukuran antropometri tiap anak. Fitur food recall pada SIM Sayang Anak telah dilengkapi DKBM (Daftar Komposisi Bahan Makanan) yang memudahkan petugas gizi untuk melakukan penghitungan nutrisi yang dikonsumsi anak dan pembuatan meal plan. SIM Sayang Anak telah terintegrasi dengan Sistem Informasi Gizi Terpadu Kemenkes RI sehingga memudahkan pelaporan e-PPBGM Tersedia visualisasi berupa dashboard interaktif hasil analisis diagnostic reading stunting yang dapat memberikan gambaran faktor risiko penyebab stunting di Kota Semarang Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara terpadu dan menyeluruh, tidak terpisah-pisah. Orangtua anak dapat melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak dari website Sayang Anak, dan mendapatkan edukasi terkait gizi anak. Website Sayang Anak terintegrasi dengan aplikasi SIPP-Nakes untuk menyediakan daftar dokter spesialis anak yang telah berizin di Kota Semarang F. Tahapan dan Implementasi Inovasi a. Perancangan Program Inovasi 1. Proses Kerja b. Pelaksanaan Program Inovasi Launching Website dan SIM Sayang Anak Inovasi Lional Mesi telah diinisiasi sejak tahun 2022, kemudian dikembangkan dan digunakan pada awal tahun 2023 untuk pencatatan tumbuh kembang anak di Rumah Pelita. Website Sayang Anak dilakukan launching resmi pada kegiatan Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) tahun 2023 pada 20 Juli 2023. Mengusung tema “Dengan Transformasi Kesehatan Menuju Semarang Semakin Sehat”, Rapat Kerja Kesehatan 2023 dibuka oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melalui zoom meeting serta memberikan arahan terkait agenda program kerja Kesehatan tahun 2023 yakni transformasi Kesehatan 6 pilar. Transformasi Layanan Primer, Transformasi Layanan Rujukan, Transformasi Sistem Ketahanan Kesehatan, Transformasi Sistem Pembiayaan Kesehatan, Transformasi Sumber Daya Manusia Kesehatan dan Transformasi Teknologi Kesehatan. Hadir pula secara langsung Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu didampingi dengan Anggota DPRD komisi D, dan seluruh OPD lintas sektoral termasuk Akademisi, Organisasi profesi, direktur rumah sakit dan puskesmas se-kota Semarang, yang juga hadir sebagai narasumber. Dalam sambutannya, Walikota Semarang menyampaikan bahwa agenda besar kota Semarang bidang Kesehatan adalah penurunan kasus stunting. Walikota Semarang memberikan penekanan pada transformasi yang harus dilakukan pada bidang kesehatan adalah optimalisasi layanan primer untuk pencegahan dan penanganan stunting agar Semarang bisa zero stunting. Tentu dengan dukungan lintas sektoral karena penanganan stunting tidak hanya spesifik yang dilakukan Dinas Kesehatan namun juga harus melibatkan OPD lain. 2. Rumah Pelita (Rumah Penanganan Stunting Lintas Sektoral Bagi Baduta) Sebagai wujud komitmen dalam upaya perbaikan gizi masyarakat, Kota Semarang melakukan harmonisasi dan sinkronisasi program/kegiatan dalam penanganan bayi dan balita yang memiliki masalah pertumbuhan maupun stunting. Rumah Pelita menjadi wujud upaya tersebut, mengusung konsep Daycare yang menyelenggarakan program pendidikan sekaligus pengasuhan dan kesejahteraan sosial bagi anak. Daycare Rumah Pelita sebagai upaya penanggulangan masalah gizi masyarakat bertujuan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak dan membantu orang tua dalam melaksanakan peran pengasuhan, pendidikan, perawatan dan perlindungan selama orang tua bekerja. Daycare Rumah Pelita diperuntukkan bagi balita dengan masalah gizi yang keluarganya masuk dalam DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) dan diberikan pelayanan secara gratis selama pendampingan di Rumah Pelita. Sudah terdapat 10 daycare Rumah Pelita yang dibangun di Kota Semarang. Implementasi inovasi Lional Mesi dalam program daycare Rumah Pelita adalah mendukung dalam proses pengukuran antropometri dan pencatatan hasil pendampingan terhadap balita yang memiliki masalah gizi. Selama proses pendampingan, pengukuran antropometri anak menggunakan IoT antropometri dan hasil pengukuran secara otomatis tercatat pada SIM sayang anak. Hal ini menjadikan proses pengukuran antropometri lebih efektif, efisien dan akurat mengingat ketelitian alat tersebut hingga 97,67% pada pengukuran tinggi badan dan 98,75 % pada pengukuran berat badan. Selain itu, petugas dapat menginputkan riwayat pemberian makanan pada fitur food recall. Fitur ini memudahkan petugas gizi untuk merekam nutrisi yang sudah dikonsumsi anak dan membuat meal plan selanjutnya berdasarkan kebutuhan nutrisi dari masing-masing anak. Fitur pendukung lain dalam website sayang anak adalah perekaman tumbuh kembang anak yang dilakukan oleh bidan dan fisioterapis. Dengan adanya menu laporan pada website sayang anak, petugas kesehatan akan dengan mudah melihat riwayat setiap anak baik pertumbuhan, perkembangan, status gizi maupun perkembangan perilakunya. Dengan fitur-fitur tersebut, memungkinkan petugas kesehatan memantau secara spesifik setiap anak dan memberikan intervensi yang tepat guna perbaikan status gizinya dan mewujudkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif, serta pencapaian pembangunan berkelanjutan. 3. Posyandu Balita Posyandu (pos pelayanan terpadu) merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan dasar. Dalam pelaksanaan Posyandu, ada keterlibatan kader kesehatan dan tenaga kesehatan Puskesmas yang melakukan pelayanan kesehatan dasar pada bayi dan balita serta ibu hamil. Terdapat 1.651 posyandu aktif dengan 77 % merupakan posyandu berstrata mandiri. Dalam pelaksanaannya, kader sudah diberi pengetahuan dan pelatihan terkait stunting dan pencegahannya serta rutin melaporkan melalui website sayang anak. Alat pengukuran antropometri dengan IoT juga sudah digunakan pada beberapa Posyandu di Kota Semarang. 4. Koordinasi dan Sosialisasi Penurunan angka stunting telah dinyatakan sebagai program prioritas nasional dan Bapak Presiden dalam beberapa kesempatan menginstruksikan bahwa pembangunan SDM, termasuk anak merupakan fokus pembangunan pada Tahun 2024. Oleh karena itu, menjadi kewajiban seluruh pihak untuk memperhatikan tumbuh kembang anak, mulai sejak dalam kandungan, bayi, sampai mereka memasuki masa emas. Guna mendukung terintegrasinya pelaksanaan intervensi pencegahan stunting, berdasarkan Peraturan Presiden No 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, Pemerintah Kota Semarang telah melaksanakan 8 (delapan) aksi konvergensi yang akan memperkuat efektifitas intervensi mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi. Salah satunya adalah Aksi 3 Rembuk Stunting memiliki peran strategis untuk memastikan pelaksanaan rencana kegiatan intervensi pencegahan dan penurunan stunting dilakukan secara bersama-sama antara OPD penanggung jawab pelayanan dengan sektor/lembaga non-Pemerintah dan masyarakat dengan satu tujuan menurunkan angka stunting. Tujuan dari Rembuk Stunting ini adalah untuk menyampaikan hasil analisis situasi dan rancangan rencana kegiatan intervensi penurunan Stunting yang terintegrasi dan membangun komitmen publik dalam kegiatan pencegahan dan penurunan stunting secara terintegrasi di Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Badan Perencanaan Daerah Kota Semarang, Dinas Sosial Kota Semarang, Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kota Semarang, Dinas Perikanan Kota Semarang, Dinas Lingkungan Hidup dan OPD lain berkolaborasi dalam melakukan pemantauan data dan intervensi terhadap anak stunting di Kota Semarang. Inovasi Lional Mesi memiliki peran penting dalam mempermudah koordinasi dengan lintas sektor terkait penurunan stunting. Data pemantauan pada anak stunting dalam Sistem Informasi Manajemen Sayang Anak telah diintegrasikan dengan website stunting tingkat Pemerintah Kota Semarang (https://stunting.semarangkota.go.id/) agar dapat dilakukan pemantauan secara real time. Peran dari masing-masing OPD antara lain: Tabel 1. Peran Masing-masing OPD No OPD Peran 1. Dinas Kesehatan Kota Semarang Membuat dan mengembangkan inovasi Lional Mesi sebagai alat pemantauan tumbuh kembang anak stunting dan anak yang memiliki masalah gizi Mengelola daycare Rumah Pelita dan Rumah Pelangi Nusantara Melakukan deteksi dini stunting di masyarakat Melakukan intervensi dan pendampingan pada bayi dan balita stunting Memberikan pendampingan pada orangtua bayi dan balita stunting Melakukan upaya promosi, edukasi dalam pencegahan stunting di masyarakat melalui berbagai media Melakukan analisis data stunting untuk menentukan strategi kebijakan penurunan stunting Menyediakan pelayanan kesehatan dan pemeriksaan penunjang bersama Puskesmas Bekerjasama dengan organisasi profesi terkait upaya penurunan stunting 2. Badan Perencanaan Daerah Kota Semarang Menginisiasi pembuatan website stunting tingkat Kota Semarang Mengalokasikan anggaran untuk kegiatan penanganan dan upaya penurunan stunting Mengkoordinasikan dengan OPD lain terkait kegiatan bergerak bersama penurunan stunting Kota Semarang 3. Dinas Sosial Kota Semarang Memberikan bantuan kepada keluarga bayi dan balita stunting yang tercatat pada daftar keluarga kurang mampu 4. Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang Memberikan bantuan pangan kepada keluarga bayi dan balita stunting Melakukan pengawasan keamanan pangan di masyarakat Memastikan ketersediaan akses pangan bergizi 5. Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kota Semarang Membuat dan mengembangkan website stunting Kota Semarang Memantau dan mengintegrasikan data dengan website Sayang Anak Menyediakan server dan memfasilitasi keamanan database 6. Dinas Perikanan Kota Semarang Sosialisasi dan edukasi gerakan makan ikan sebagai menu bergizi keluarga 7. Dinas Lingkungan Hidup Mengupayakan ketersediaan sanitasi yang layak bagi masyarakat dan menjamin ketersediaan sarana air bersih c. Monitoring dan Evaluasi Lional Mesi Upaya penanganan stunting untuk mewujudkan zero stunting di Kota Semarang merupakan program prioritas yang dilakukan monitoring langsung oleh Walikota Semarang. Evaluasi rutin dilakukan oleh Dinas Kesehatan melalui rapat koordinasi setiap minggu dengan melibatkan berbagai stakeholder untuk melihat perkembangan dan mengevaluasi pelaksanaannya. Inovasi Lional Mesi yang terdapat website dan SIM Sayang Anak juga terus dilakukan evaluasi berkala dan pengembangan sesuai dengan hasil evaluasi dan identifikasi kebutuhan. Evaluasi yang pernah dilakukan terhadap website dan SIM Sayang Anak adalah dengan menggunakan metode TAM (Technology Acceptance Model). Evaluasi dilakukan dengan melihat 4 faktor, yaitu : Kemudahan (Perceived Ease of Use) Kemanfaatan (Perceived Usefulness) Sikap dalam menggunakan (Attitude Towards Using Technology) Niat untuk menggunakan (Behavioral Intention to Use) Penggunaan Teknologi Aktual (Actual Technology Use) Berdasarkan evaluasi yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa hubungan antara Kemudahan dengan kebermanfaatan, Kemudahan dengan sikap, Kemanfaatan dengan niat, Kemanfaatan dengan sikap, Sikap dengan Niat sudah baik. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil uji hipotesis yang telah dilakukan, dimana hipotesis tersebut terbukti signifikan. Namun, masih terdapat satu hipotesis yang ditolak, yaitu hubungan Niat dengan teknologi. Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara niat dengan teknologi masih belum baik. Dengan adanya kekurangan dari aspek niat dan teknologi, maka diperlukan adanya sosialisasi kembali mengenai SIM sayang anak, serta penetapan regulasi mengenai penggunaan SIM sayang anak dengan harapan dikemudian hari aplikasi ini dapat lebih bermanfaat.
Simplifikasi manajemen pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak dan balita (surveilans gizi) dengan integrasi data layanan di daycare Rumah Pelita dan Posyandu. Penyediaan informasi terkait tumbuh kembang kepada masyarakat sehingga misi mewujudkan Kota Semarang Zero stunting dapat tercapai.
A. Manfaat Bagi Bayi dan Balita Deteksi dini pada stunting dapat segera dilakukan dan stunting pada bayi dan balita dapat segera dicegah dengan adanya data yang akurat. Bayi dan balita yang mengalami masalah kesehatan dapat segera diberikan penanganan lebih lanjut secara komprehensif. B. Manfaat Bagi Orangtua Bayi dan Balita Orangtua bayi dan balita yang menggunakan website sayang anak mendapatkan informasi yang akurat mengenai kesehatan anak, daftar dokter spesialis anak di Kota Semarang, kegiatan posyandu dan edukasi dari petugas kesehatan. Orangtua dapat memantau tumbuh kembang anak dan pelayanan kesehatan serta mendapatkan pendampingan oleh psikolog bagi orangtua dari anak yang dilakukan pendampingan di Rumah Pelita. C. Manfaat Bagi Petugas Kesehatan Petugas kesehatan dapat melakukan pemantauan status gizi, pertumbuhan dan perkembangan balita stunting. Hasil pengukuran dengan IoT dapat secara otomatis terekam dalam sistem sehingga lebih efektif dan data yang dihasilkan lebih akurat. Menu Food Recall memungkinkan petugas dapat memantau asupan makanan harian balita sehingga dapat memantau kecukupan gizi balita dan memberikan menu PMT yang tepat. Terdapat dashboard hasil analisis dari data diagnosis reading balita stunting sehingga memudahkan pemegang program melakukan analisis lebih lanjut. Laporan yang tercatat menjadi bahan laporan dengan aplikasi E-PPBGM milik Kementrian Kesehatan RI. D. Manfaat Bagi Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kota Semarang Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kota Semarang dapat memantau perkembangan kasus stunting di Kota Semarang. Informasi dan analisis yang tersedia secara real-time pada website Sayang Anak sebagai dasar pengambilan keputusan dan menentukan strategi penanganan stunting selanjutnya, guna mewujudkan zero stunting di Kota Semarang.
Pengembangan inovasi Lional Mesi dengan 3 komponen utama di dalamnya, memberikan dampak positif terhadap upaya penurunan stunting di Kota Semarang untuk mewujudkan zero stunting di Kota Semarang. Dampak inovasi ini tidak hanya untuk Dinas Kesehatan saja, tetapi juga bagi masyarakat secara luas, antara lain :