Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Micobacterium Tuberculosa. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu yang cukup lama pada proses pengobatannya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru dibandingkan dengan bagian tubuh lain dari tubuh manusia. Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja dan dimana saja. Penyakit tuberkulosis (TBC) di Indonesia menempati peringkat ketiga tertinggi setelah India dan Cina dengan jumlah kasus 824 ribu dan kematian 93 ribu per tahun atau setara dengan 11 kematian per jam.
Upaya penanggulangan TBC telah tertulis dalam Peraturan Walikota (PERWALI) Kota Semarang Nomor 39 Tahun 2017 tentang Rencana Aksi Daerah Penagnggulangan Tuberklosis Kota Semarang Tahun 2017 dan Peraturan Walikota Semarang Nomor 93 Tahun 2021 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi, Serta Sistem Kerja Dinas Kesehatan Kota Semarang. Inovasi eS GEMPOL PLERET merupakan suatu implementasi untuk melakukan kegiatan skrining sebanyak-banyaknya. Implementasi eS GEMPOL PLERET dilakukan dengan cara meningkatkan kegiatan kerjasama dengan Lintas Program, Lintas Sektor, Jejaring, Kader dan Toma dalam menjaring Suspect TB dan diharapkan dampaknya cakupan indikator-indikator Program P2TB yaitu cakupan suspect TB melampaui target, meningkatkan angka pengobatan TB dan meningkatkan angka kesembuhan Penderita TB. Perlu diketahui pula bahwa Pemerintah Indonesia memiliki komitmen yang tinggi untuk mengeliminasi TBC pada tahun 2030 sejalan dengan target yang ditetapkan dalam Sustainable Development Goals atau SDGs.
Komitmen Indonesia dalam mencapai eliminasi TBC tahun 2030 yaitu menurunkan insiden TBC menjadi 65/100.000 penduduk. Cakupan program P2TB Puskesmas Srondol tahun 2022 sebagai berikut:
CAKUPAN PROGRAM P2TB PUSKESMAS SRONDOL TAHUN 2022
No
KEGIATAN
TARGET
CAPAIAN
KESENJANGAN
1
Skrining terduga TB
5016 (100%)
3880 (77%)
Dibawah target (23%)
2
Suspek
664 (100%)
392 (59%)
Dibawah target (41%)
3
Kasus TB
110 (100%)
52 (47%)
Dibawah target (53%)
Dari tiga (3) indikator program P2TB Puskesmas Srondol, masih terdapat kesenjangan dikarenakan capaian yang masih di bawah target.
Keberhasilan pengobatan pasien TB adalah angka yang menunjukkan persentase semua pasien TB yang sembuh dan pengobatan lengkap di antara semua pasien TB yang diobati, dilaporkan sesuai dengan periodisasi waktu pengobatan TB. Upaya inovasi yang dapat dilakukan secara kontinyu untuk mengatasi permasalahan TB adalah dengan mengintegrasikan program penanggulangan penyakit TB Paru dengan program yang lain serta meningkatkan kerjasama Lintas Sektor, Jejaring, Kader dan ToMa.
Tujuan Inovasi
TUJUAN UMUM
Meningkatkan angka kesembuhan Penderita TB dan Cakupan indikator-indikator Program P2TB sesuai Target.
TUJUAN KHUSUS
Meningkatkan Kerjasama Lintas Program dengan membawa pot dahak di setiap kegiatan luar gedung
Meningkatkan Kerjasama dengan Lintas Sektor, Jejaring, Kader dan Toma
Memudahkan masyarakat untuk menjangkau tempat pelayanan TB Paru
Menurunkan biaya penjaringan dan penemuan penderita TB Paru yang selama ini dikeluarkan untuk mengumpulkan sasaran.
Memudahkan petugas dalam pemantauan dan evaluasi bagi pasien yang akan, sedang maupun paska pengobatan.
Mengurangi/ menurunkan drop out OAT karena petugas melakukan kunjungan rumah bagi yang terlambat mengambil obat.
Manfaat Inovasi
Manfaat dari inovesi eS GEMPOL PLERET yaitu antara lain:
Meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan Tuberkulosis.
Masyarakat dapat mudah melakukan pemeriksaan dahak tanpa harus datang ke Puskesmas karena petugas melakukan kunjungan ke tingkat RW, RT, maupun kerumah langsung pasien.
Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penanggulangan Tuberkulosis.
Salah satu peran lintas sector yaitu membantu menyebarluaskan informasi ke masyarakat mengenai inovasi ini, maka kesadaran masyarakat akan tuberculosis juga akan ikut meningkat.
Memperkuat manajemen program penanggulangan Tuberkulosis yang responsif.
Manajemen dalam penanggulangan menjadi lebih responsive karena petugas mendatangi langsung ke tempat pasien
Meningkatkan kualitas pelayanan Tuberkulosis yang berpusat kepada kebutuhan pasien
Kebutuhan pasien terpenuhi karena tidak perlu mendatangi langsung faskes.
Menemukan penderita TB yang belum diperiksa dan diobati
Tujuan utama dari eS GEMPOL PLERET ini yaitu untuk menemukan penderita TB yang belum diperiksa dan diobati. Meningkatkan jumlah pemeriksaan pasien terduga TB
Meningkatkan peran serta stakeholder, lintas sektor, tokoh masyarakat dalam upaya eliminasi TB
Kerjasama antar sektor ini dapat berupa penyebaran informasi, maupun fasilitasi dalam program inovasi ini.
Memudahkan pasien terduga TB dalam melaksanakan pemeriksaan TB
Dalam hal ini, petugas akan melakukan kunjungan pasien langsung terduga TB.
Meningkatkan capaian program TB sehingga dapat memenuhi target.
Dengan adanya inovasi ini, jumlah pencapaian skrining TB juga akan bertambah dan harapannya dapat memenuhi target.
Inovasi eS GEMPOL PLERET ini pada dasarnya adalah bertujuan untuk mengedepankan kolaborasi multisektor yaitu kerjasama lintas program, lintas sektor, kader kesehatan, TOMA, stakeholder dan juga berfokus pada kegiatan pemberdayaan masyarakat. Dan dalam pelaksanaan kegiatan yang berupa Kerjasama Program P2TB ini sebenarnya sudah berjalan sejak dahulu, tetapi belum terorganisir dengan baik, maka dengan membuat sebuah wadah berupa kegiatan maupun inovasi yang diberi nama eS GEMPOL PLERET. Kegiatan yang dilakukan dalam eS GEMPOL PLERET akan lebih terpadu sehingga penanggulangan dan Pencegahan penyakit TB dapat memenuhi target program.
Hasil Inovasi
Skema eS GEMPOL PLERET adalah suatu strategi yang penting untuk mengidentifikasi individu yang terinfeksi TB dan memulai perawatan yang tepat secepat mungkin. Berikut adalah beberapa strategi skrining dahak TBC:
Identifikasi Risiko: Identifikasi populasi dengan risiko lebih tinggi untuk TBC, seperti orang dengan riwayat perjalanan atau paparan TBC, atau orang dengan penyakit lain yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan skrining mereka terlebih dahulu.
Skrining Awal: Skrining awal dapat dilakukan dengan mengumpulkan sampel dahak dari orang yang dicurigai terinfeksi TBC, terutama jika mereka memiliki gejala seperti batuk, demam, atau penurunan berat badan. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara pemeriksaan mikroskopis dahak, tes PCR atau tes TBC lainnya.
Skrining Berkala: Skrining berkala dapat dilakukan pada populasi yang berisiko tinggi atau pada populasi yang terpapar dengan pasien TBC.
Pendidikan dan Kampanye: Pendidikan dan kampanye publik tentang TBC dan pentingnya skrining dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengidentifikasi dan mengobati TBC dengan cepat. Hal ini dapat membantu dalam mengurangi stigma dan meningkatkan partisipasi dalam skrining.
Integrasi dengan Layanan Kesehatan Lainnya: Integrasi skrining TBC dengan layanan kesehatan lainnya seperti program imunisasi dan perawatan kesehatan primer dapat membantu meningkatkan cakupan skrining dan mendukung identifikasi kasus baru secara dini.